Semua artikel
Pikiran

Maladaptive Daydreaming dan Hubungannya dengan Gangguan Kecemasan

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Mengalami kecemasan, terlebih lagi jika kecemasan tersebut sudah masuk kategori gangguan, tentu akan terasa sangat tidak nyaman. Segala cara dilakukan agar bisa bebas dari kecemasan tersebut dan merasakan kelegaan. Misalnya menenangkan pikiran dengan imajinasi-imajinasi yang ada di otak kita.

Kita memang bisa menggunakan imajinasi sebagai media pelarian dari pemicu kecemasan yang dihadapi. Namun, tetap saja imajinasi tersebut tidak boleh berlebihan. Pasalnya, imajinasi yang berlebihan justru bisa memicu masalah baru yang dikenal dengan istilah maladaptive daydreaming.

Dari penjelasan singkat ini kita bisa mengetahui bagaimana kaitan antara gangguan kecemasan dengan kondisi maladaptive daydreaming. Namun untuk informasi lebih jelasnya, artikel kali ini akan membahas lebih dalam terkait maladaptive daydreaming dan hubungannya dengan gangguan kecemasan.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental atau perilaku abnormal. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pengertian Maladaptive Daydreaming

Quiz wikiHow: Apakah Kamu Mengalami Maladaptive Daydreaming?

Maladaptive daydreaming adalah kondisi psikologis dimana seseorang terlalu larut dalam imajinasi atau fantasinya, yang membuat mereka terganggu fungsi sosialnya, termasuk mengalami hambatan dalam aktivitas sehari-hari. 

Maladaptive daydreaming memang memiliki hubungan erat dengan imajinasi. Namun, imajinasi pada penderita maladaptive daydreaming bukan imajinasi yang melahirkan ide-ide, gagasan, atau inovasi baru. Melainkan imajinasi yang dijadikan sebagai media pelarian dari stress, trauma, termasuk kecemasan.

Individu dengan maladaptive daydreaming bisa larut dalam imajinasinya selama berjam-jam. Hal ini berbeda dengan imajinasi atau fantasi normal yang hanya berlangsung sebentar. Selain itu, individu dengan maladaptive daydreaming juga mengalami kesulitan untuk keluar dari imajinasi atau fantasinya. Sedangkan individu dengan imajinasi atau fantasi normal bisa keluar dengan mudah dan kembali keralitas, dan melakukan aktivitas normal seperti biasanya.

Baca juga: Keterkaitan Maladaptive Daydreaming dengan Trauma Masa Lalu

Pengertian Gangguan Kecemasan

Is Daydreaming Good for You? | Everyday Health

Gangguan kecemasan atau anxiety disorder merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan rasa cemas, takut, atau khawatir berlebihan terhadap suatu objek atau situasi tertentu, dimana hal tersebut bisa mengganggu aktivitas atau produktivitas sehari-hari. Gangguan kecemasan juga termasuk gangguan mental yang diakui keberadaannya oleh para ahli, dan tercantum dalam DSM-5 yang merupakan buku pedoman diagnosa gangguan mental.

Perasaan cemas pada dasarnya merupakan perasaan normal sebagai respon adaptif terhadap ancaman. Namun, perasaan cemas ini bisa masuk dalam kategori gangguan saat intensitasnya berlebihan, berlangsung lama (kronis), tidak proporsional dengan pemicunya, dan mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, serta kehidupan sehari-hari. Selain itu untuk dikategorikan sebagai sebuah gangguan yang sah, tentu diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh para ahli seperti psikolog atau psikiater.

Baca juga: Mengupas Maladaptive Daydreaming dalam Perspektif Psikologi Kognitif

Hubungan Maladaptive Daydreaming dengan Gangguan Kecemasan

Does Daydreaming Have a Dark Side?

Berdasarkan banyak study, maladaptive daydreaming dengan gangguan kecemasan memang memiliki hubungan. Khususnya jika kita melihat dari beberapa kondisi berikut:

Kecemasan sebagai pemicu maladaptive daydreaming

Jika dilihat dari pengertian maladaptive daydreaming sendiri, kita bisa lihat bahwa kondisi tersebut salah satunya dipicu oleh rasa cemas. Dimana kecemasan dijadikan sebagai coping mechanism dari rasa cemas yang dialami. Fantasi atau imajinasi bisa memberikan rasa aman dan kontrol terhadap keadaan dari realitas yang penuh tekanan dan ketidakpastian.

Maladaptive daydreaming memperkuat kecemasan

Walaupun awalnya maladaptive daydreaming dijadikan sebagai coping dari kecemasan, namun disisi lain maladaptive daydreaming juga bisa memperkuat kecemasan. Pasalnya, maladaptive daydreaming justru dapat meningkatkan isolasi sosial, memperburuk prokrastinasi, dan menurunkan self esteem. Artinya, gangguan kecemasan dan maladaptive daydreaming bisa menciptakan lingkaran setan yang saling memperburuk satu sama lain.

Gangguan kecemasan spesifik dan maladaptive daydreaming

Jika kecemasan dan maladaptive daydreaming bisa saling memperburuk kondisi satu sama lain. Maladaptive daydreaming juga memiliki hubungan spesial dengan berbagai gangguan kecemasan spesifik. Misalnya pada individu dengan generalized anxiety disorder yang memiliki pola pikir ruminatif yang berhubungan dengan fantasi berlebih, individu dengan gangguan kecemasan sosial yang sering menggunakan maladaptive daydreaming untuk menciptakan skenario ideal untuk menggantikan interaksi sosial, dan penderita post traumatic stress disorder yang menjadikan maladaptive daydreaming sebagai media untuk menghindari pengulangan memori traumatis.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai maladaptive daydreaming dan gangguan kecemasan, serta hubungan dari keduanya. Dapat disimpulkan bahwa kecemasan bisa menghadirkan maladaptive daydreaming, dan maladaptive daydreaming bisa memperkuat kecemasan. Keduanya saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Maka dari itu, jika kamu mengalami maladaptive daydreaming atau gangguan kecemasan, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Maladaptive Daydreaming: Antara Imajinasi Sehat dan Pelarian Psikologis

 

Sumber:

Bigelsen, J., Lehrfeld, J. M., Jopp, D. S., & Somer, E. (2016). Maladaptive daydreaming: Evidence for an under-researched mental health disorder. Consciousness and Cognition, 42, 254–266.

Pietkiewicz, I. J., Nęcki, S., Bańbura, A., & Tomalski, R. (2018). Maladaptive daydreaming as a new form of behavioral addiction. Journal of Behavioral Addictions, 7(3), 838–843.
Somer, E. (2002). Maladaptive daydreaming: A qualitative inquiry. Journal of Contemporary Psychotherapy, 32(2–3), 197–212.

Somer, E., Soffer-Dudek, N., & Ross, C. A. (2016). The comorbidity of daydreaming disorder (maladaptive daydreaming). Journal of Nervous and Mental Disease, 204(6), 443–452.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:

1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait