Deeptalk.co.id – Maladaptive daydreaming adalah kondisi psikologis dimana seseorang terlalu larut dalam imajinasi dan fantasi mereka, yang membuat banyak waktu terbuang percuma, dan menghambat aktivitas sosial, produktivitas, dan banyak hal dalam kehidupan penderitanya. Terlepas dari itu semua, maladaptive daydreaming tidak termasuk dalam kategori gangguan mental yang tercatat di dalam DSM-5.
Walaupun maladaptive daydreaming tidak termasuk dalam kategori gangguan mental. Segala gangguan dan hambatan yang tercipta akibat kondisi ini membuatnya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas cara mengatasi maladaptive daydreaming secara mandiri, dan berdasarkan penanganan profesional.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental atau perilaku abnormal. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Strategi Mandiri Mengatasi Maladaptive Daydreaming

Untuk mengatasi kondisi maladaptive daydreaming yang ringan tentu bisa dilakukan secara mandiri. Namun agar lebih terstruktur, bisa dilakukan dengan beberapa strategi berikut:
Self monitoring
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah self monitoring atau evaluasi awal secara mandiri. Pada langkah yang satu ini bisa dimulai dengan mengisi maladaptive daydreaming scale untuk mengetahui seberapa parah tingkat maladaptive daydreaming dan pola yang ditimbulkan. Hal tersebut juga bisa menjadi base line. Bisa juga dengan mencatat apa saja pemicu dari maladaptive daydreaming, durasinya, hingga perasaan yang timbul setelah dan sebelumnya.
Intervensi perilaku langsung
Langkah selanjutnya bisa dengan melakukan intervensi perilaku langsung, artinya mengurangi kesempatan maladaptive daydreaming dan mengubah konteksnya. Langkah ini bisa dilakukan dengan stimulus kontrol, yaitu mengidentifikasi pemicu, dan menghindari pemicu pada jam-jam rentan. Bisa juga dengan mengubah schedule daydreaming, seperti memberi waktu ke diri sendiri untuk berfantasi selama 10-20 menit sebagai kompensasi. Langkah ini bisa membantu menurunkan frekuensi waktu maladaptive daydreaming.
Melatih teknik perhatian dan regulasi emosi
Strategi lain bisa dengan melatih teknik perhatian dan regulasi emosi, misalnya dengan belajar mindfulness dan grounding, jurnal emosi dan skrip singkat, atau penggantian sensorik.
Memperbaiki rutinitas tidur dan kesehatan dasar
Perlu diingat bahwa kesehatan fisik dan mental saling berkaitan satu sama lain. Saat kamu menjaga kesehatan fisik, secara tidak langsung kamu juga akan menjaga kesehatan mental. Maka dari itu, untuk mengatasi maladaptive daydreaming juga bisa dengan membiasakan pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, dan olahraga teratur.
Baca juga: Perbandingan Maladaptive Daydreaming dengan Dissociative Disorders
Treatment Psikologi untuk Mengatasi Maladaptive Daydreaming

Dalam beberapa kasus, kondisi maladaptive daydreaming tentu memerlukan bantuan profesional. Terutama jika kondisi tersebut tidak bisa ditangani secara mandiri atau banyak mengganggu kehidupan sehari-hari.
Setiap penderita maladaptive daydreaming bisa mendapatkan treatment psikologi yang berbeda-beda. Semua itu tergantung dari hasil pemeriksaan awal, dan kondisi yang dialami oleh penderita. Namun secara garis besar, penderita maladaptive daydreaming umumnya mendapatkan penangan berupa:
Cognitive behavioral therapy (CBT)
Jenis penanganan yang paling umum diberikan pada penderita maladaptive daydreaming adalah cognitive behavioral therapy atau terapi perilaku kognitif. Terapi ini berfungsi untuk mengubah perilaku dan pikiran abnormal dalam hal ini yang berhubungan untuk memperkuat perilaku maladaptive daydreaming, menjadi lebih positif.
Pendekatan kognitif khusus maladaptive daydreaming (tailored CBT)
Beberapa ahli mengembangkan cognitive behavioral therapy yang khusus digunakan pada penderita maladaptive daydreaming. Studi kasus dan penelitian awal menunjukkan penurunan gejala setelah intervensi ini. Fokus dari treatment psikologi ini adalah imagery, ritual kinestetik, dan aturan waktu berfantasi.
Eye movement desensitisation and reprocessing (EMDR)
Banyak kasus maladaptive daydreaming yang berkaitan dengan trauma, dimana maladaptive daydreaming dijadikan pelarian dari trauma. Dalam kasus semacam ini intervensi psikologis yang biasanya digunakan berupa eye movement desensitisation and reprocessing (EMDR) atau terapi trauma berfokus. Terapi ini berfungsi untuk mengolah memori yang belum selesai, sehingga individu bisa mengurangi kebutuhan melarikan diri.
Farmakoterapi
Farmakoterapi adalah jenis terapi yang memanfaatkan obat-obatan di dalamnya. Terapi yang satu ini hanya bisa dilakukan oleh psikiater. Pasalnya, psikolog tidak memiliki basic kedokteran dan tidak memiliki hak untuk meresepkan obat. Namun, hingga saat ini belum ada obat yang khusus mengobati maladaptive daydreaming. Obat yang diresepkan biasanya lebih kepada mengatasi gejala atau masalah mental lain yang juga dialami oleh penderita maladaptive daydreaming.
Terapi kombinasi dan pendekatan bertahap
Ada kalanya terapis, psikolog, maupun psikiater menggunakan kombinasi dari beberapa jenis terapi untuk mengatasi suatu kondisi mental. Termasuk untuk kasus maladaptive daydreaming ini. Misalnya, CBT terfokus pada perilaku + teknik regulasi emosi (DBT/ACT) + pemrosesan trauma (EMDR) bila perlu.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai strategi untuk mengatasi kondisi maladaptive daydreaming. Jika kamu mengalami gejala maladaptive daydreaming, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Maladaptive Daydreaming: Antara Kreativitas dan Disfungsi Psikologis
Sumber:
Somer, E., Lehrfeld, J. M., Jopp, D. S., & Bigelsen, J. (2016). Development and validation of the Maladaptive Daydreaming Scale (MDS). Consciousness and Cognition, 39, 77–91.
Soffer-Dudek, N., & Halpern, H. (2017). Maladaptive daydreaming: Proposed diagnostic criteria and their assessment with a structured clinical interview. [Article].
Somer, E. (2025). Maladaptive daydreaming and psychopathology: A meta-analytic review. [Journal article].
Shanbhag, T. (2024). A cognitive approach to maladaptive daydreaming [Article]. PMC (open access).
Harvard Health Publishing. (2024, January 9). Maladaptive daydreaming: What it is and how to stop it. Harvard Health.
Cleveland Clinic. (2022?). Maladaptive Daydreaming: What it is, symptoms & tips. Cleveland Clinic.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



