Semua artikel
Masalah Mental

Hubungan Depersonalisasi dengan Trauma Masa Lalu

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Trauma masa lalu yang belum terselesaikan memang banyak membawa dampak terhadap masa sekarang dan masa depan. Walaupun beberapa orang mengaku bisa berdamai dengan traumanya. Namun terkadang dampak dari trauma tersebut masih mengganggu kehidupan sehari-hari. Salah satu kondisi yang banyak dianggap sebagai dampak dari trauma adalah depersonalisasi.

Depersonalisasi adalah kondisi psikologis yang cukup unik dan sulit diterima oleh sebagian orang. Dimana pada kondisi depersonalisasi ini penderita akan merasa seakan terlepas dari dirinya, atau seakan menjadi orang lain.

Lantas bagaimana kondisi trauma bisa membuat seseorang mengalami depersonalisasi? Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang depersonalisasi, trauma masa lalu, dan mekanisme trauma yang memicu depersonalisasi.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental atau timbul perilaku abnormal. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Depersonalisasi

Apa itu Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi?

Depersonalisasi adalah kondisi psikologis dimana seseorang merasa seakan terlepas dari tubuhnya sendiri, seolah-olah menjadi pengamat dari pikiran, perasaan, atau tubuhnya sendiri. Pada kondisi depersonalisasi ini, penderita seakan melihat dirinya sendiri keluar dari tubuh, atau merasa tidak menjadi diri sendiri, atau kehilangan kendali akan dirinya sendiri.

Dalam banyak kasus depersonalisasi justru tidak masuk dalam kategori gangguan atau patologis, atau yang kita kenal dengan depersonalisasi normal (temporer). Depersonalisasi normal ini muncul sebagai reaksi terhadap stress berat, kelelahan, atau kurang tidur. Selain itu, depersonalisasi normal berlangsung sesaat dan dalam waktu yang relatif singkat.

Terlepas dari banyaknya kasus depersonalisasi normal, tidak bisa kita pungkiri bawah beberapa depersonalisasi juga masuk dalam kategori patologis atau kronis. Depersonalisasi patologis ini dikenal dengan istilah depersonalization / derealization disorder (DPDR). Berbeda dengan depersonalisasi normal yang berlangsung singkat, depersonalisasi patologis justru bisa berlangsung lama (hitungan menit bahkan jam). Selain itu, depersonalisasi patologis juga muncul terus-menerus dan mengganggu fungsi sosial dan kondisi emosional penderitanya.

Baca juga: Depersonalisasi: Antara Mekanisme Pertahanan Psikologis dan Gangguan Mental

Trauma Psikologis

Apa itu Gangguan Depersonalisasi?

Trauma psikologis adalah respon emosional dan fisiologis terhadap kejadian yang sangat menyakitkan, berbahaya, atau mengancam kehidupan di masa lalu yang mengganggu atau memberikan dampak untuk masa sekarang. Kejadian yang dimaksud cukup beragam, seperti mengalami kekerasan fisik maupun mental, menjadi korban pelecehan seksual, kecelakaan, bencana alam, pengabaian, dan masih banyak lagi.

Walaupun trauma psikologis dipicu oleh kejadian atau peristiwa yang tidak mengenakkan, namun tidak semua orang yang melalui peristiwa serupa juga mengalami trauma psikologis. Pasalnya, setiap orang memiliki kondisi mentalnya masing-masing, dan setiap orang bisa merespon kejadian tidak mengenakkan dengan cara yang berbeda-beda.

Terlepas dari semua itu, individu yang mengalami trauma psikologis biasanya juga mengalami gangguan tidur, ketakutan berlebih, kesulitan mengatur emosi, dan juga beresiko mengalami depersonalisasi atau perasaan terpisah dari dirinya.

Baca juga: Pengaruh Maladaptive Daydreaming terhadap Relasi Sosial dan Produktivitas

Mekanisme Trauma Memicu Depersonalisasi

Gangguan Depersonalisasi: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan | IDN Times

Seperti yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya, salah satu dampak dari trauma adalah beresiko mengalami depersonalisasi. Dalam ilmu psikologi sendiri, depersonalisasi menjadi defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri dari ingatan-ingatan yang timbul akibat trauma. Artinya, secara tidak langsung otak berusaha melindungi diri dengan memutus sebagian kesadaran dari pengalaman yang menyakitkan.

Untuk penjelasan lengkapnya, berikut beberapa mekanisme utama dari trauma yang memicu kondisi depersonalisasi:

Respon neurobiologis terhadap stress

Dalam beberapa penelitian, trauma berat bisa memicu aktivitas berlebih pada sistem limbik, terutama pada amigdala dan hipokampus, dan menimbulkan penurunan aktivitas pada korteks prefrontal yang mengatur kesadaran diri. Dari kondisi tersebut, individu bisa mengalami kehilangan integritas normal antara persepsi diri dan pengalaman tubuh, yang memicu perasaan seakan terlepas dari diri.

Adanya hubungan antara derealisasi dan depersonalisasi

Saat mengalami trauma, seseorang juga akan mengalami derealisasi atau timbulnya perasaan tidak nyaman terhadap dunia. Dalam beberapa kasus, kondisi derealisasi ini berkembang menjadi depersonalisasi atau tidak terhubung dengan diri. Kedua kondisi tersebut juga sama-sama menjadi respon tubuh terhadap kejadian traumatis.

Disosiatif terhadap perlindungan diri

Saat berada dalam situasi mengancam atau tidak tertahankan secara emosional. Pada beberapa orang, otak secara otomatis mengaktifkan sistem disosiatif untuk memisahkan kesadaran dari rasa sakit. Kondisi tersebut mirip dengan depersonalisasi, dimana individu terlepas dari sebagian tubuhnya sehingga tidak sepenuhnya merasakan penderitaan fisik maupun emosional.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai depersonalisasi, trauma psikologis, dan hubungan antara keduanya. Dapat disimpulkan bahwa kondisi depersonalisasi bisa dipicu oleh trauma psikologis. Namun disisi lain, tidak semua orang yang mengalami trauma psikologis mengalami depersonalisasi, dan tidak semua kondisi depersonalisasi dipicu oleh trauma psikologis.

Jika kamu mengalami beberapa kondisi di atas. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Strategi Psikoterapi untuk Mengatasi Maladaptive Daydreaming

 

Sumber:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.

Herman, J. L. (1992). Trauma and recovery: The aftermath of violence—from domestic abuse to political terror. New York: Basic Books.

Sierra, M., & Berrios, G. E. (1998). Depersonalization: Neurobiological perspectives. Biological Psychiatry, 44(9), 898–908.

van der Hart, O., Nijenhuis, E. R. S., & Steele, K. (2006). The haunted self: Structural dissociation and the treatment of chronic traumatization. New York: W.W. Norton & Company.

Simeon, D., & Abugel, J. (2006). Feeling unreal: Depersonalization disorder and the loss of the self. Oxford University Press.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Hubungan Depersonalisasi dengan Trauma Masa Lalu — DeepTalk